Jenis kitab Hadits


Setiap bidang keilmuan dalam Islam pasti memiliki kitab rujukannya masing-masing. Begitupun dalam bidang hadits, terdapat 11 jenis kitab hadits. Memang cukup unik, karena tidak seperti bidang ilmu lainnya yang hanya memiliki satu atau dua jenis kitab.  

Banyaknya jenis kitab hadits ini didasari dengan beragamnya metode penyusunan hadits dalam kitab. Misalnya disusun berdasarkan nama sahabat, urutan huruf hijaiyah, atau berdasarkan bab-bab fiqih. Sehingga penting sekali mengenali berbagai jenis kitab hadits ini   

Jika Anda adalah seorang pengkaji hadits wajib mengetahui berbagai jenis kitab hadits ini. Karena akan mempermudah Anda ketika melakukan proses takhrij al-hadits atau penukilan hadits. Berikut ini penjelasan lengkapnya.

1. Jami’

Kitab jami’ merupakan kitab hadits yang berisikan hadits-hadits tentang semua tema agama Islam. hadits-hadits tersebut disusun per bab, biasanya kitab jami’ ini memuat delapan bab utama, mulai dari bab akidah hingga manaqib atau sejarah. Banyak sekali kitab hadits dengan model penyusunan jami’, akan tetapi ada tiga kitab jami’ yang paling masyhur:

  • Al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari, disusun oleh Imam al-Bukhari, lebih dikenal dengan Shahih al-Bukhari. Merupakan kitab hadits yang paling shahih di dunia ini.
  • Al-Jami’ al-Shahih li Muslim, karya dari Imam Muslim, biasa disebut dengan Shahih Muslim. Adalah kitab hadits paling shahih setelah Shahih al-Bukhari.
  • Jami’ Imam al-Tirmidzi, karya Imam al-Tirmidzi, lebih populer dengan Sunan al-Tirmidzi. Karena hadits-haditsnya lebih banyak berkaitan dengan hukum. 

2. Sunan

Jenis kitab hadits sunan adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits yang marfu’ tentang hukum Islam serta disusun sesuai urutan bab-bab fiqih. Sehingga kitab sunan ini sering menjadi rujukan para fuqaha’ ketika mencari dalil untuk mengeluarkan hukum tertentu. Terdapat empat kitab hadits sunan yang termasyhur, yaitu

  • Sunan Abi Dawud, karya Imam Abu Dawud.
  • Sunan al-Nasa’i, karya Imam al-Nasa’i.
  • Sunan al-Tirmidzi, karya Imam al-Tirmidzi.
  • Sunan Ibnu Majah, karya Imam Ibn Majah.  

3. Musnad

Musnad adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan nama sahabat. Jadi pengelompokan per babnya  sesuai nama sahabat yang meriwayatkan haditsnya. Misalkan bab satu adalah Abu Bakar ra. maka bab ini berisi hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Ra.

Walaupun demikian, pengurutan nama sahabat dalam semua kitab musnad tidaklah sama. Ada yang mendahulukan sahabat assabiqunal awwaluun terlebih dahulu. Ada yang mengurutkan huruf awal nama sahabat sesuai urutan huruf hijaiyah, dan ada pula berdasarkan negara atau suku.

Di kalangan para ulama’ terjadi perbedaan pendapat mengenai kitab hadits yang disusun berdasarkan huruf awal nama sahabat. Ada yang mengatakan itu termasuk kitab musnad, di sisi lain ada yang mengatakan itu adalah kitab mu’jam

Adapun banyaknya kitab musnad ini menurut Syekh Muhammad bin Ja’far al-Kattani sebanyak lebih dari 80 kitab. Namun diantara kitab-kitab musnad tersebut, terdapat tiga kitab musnad yang cukup populer.

  • Musnad Ahmad bin Hanbal, disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal.
  • Musnad Abi Ya’la, karya Imam Abu Ya’la Ahmad bin Ali al-Maushili.
  • Musnad Abi Dawud, buah karya Imam Abu Dawud.

4. Mu’jam

Adalah kitab hadits yang hadits-haditsnya disusun berdasarkan nama sahabat, para syaikh nya penyusun kitab, atau nama daerah. Biasanya susunan ini berdasarkan urutan huruf hijaiyah. Kitab mu’jam yang paling masyhur ada tiga:

  • Al-Mu’jam al-Kabir, karangan Imam al-Thabrani. Susunan haditsnya diawali dengan berdasarkan nama 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Kemudian setelahnya, berdasarkan nama sahabat sesuai urutan huruf hijaiyah. Khusus Abu Hurairah ra. beliau buatkan karya tersendiri.
  • Al-Mu’jam al-Ausath, juga merupakan karya Imam al-Thabrani. Susunan haditsnya berdasarkan nama para syaikh nya.
  • Al-Mu’jam al-Shaghir, masih dengan penyusun yang sama yaitu Imam al-Thabrani. Susunannya sama dengan kitab al-Jami’ al-Ausath

5. Mushannaf

Jenis kitab hadits mushannaf ini memiliki kesamaan dengan kriteria kitab sunan, yakni susunan haditsnya sesuai bab-bab dalam fiqih. Hanya saja dalam kitab mushannaf memuat hadits marfu’ dan juga lainnya, yaitu mauquf dan maqthu’. Tidak sebagaimana kitab sunan yang hanya berisi hadits marfu’

Di antara contoh kitab mushannaf adalah al-Mushannaf Abu Bakar al-Kufi, al-Mushannaf Abu Bakar al-Shan’ani, al-Mushannaf Waki’ bin al-Jarah al-Kufi, dan al-Mushannaf Abi Salamah al-Bashri

6. Zawa’id

Kitab hadits zawa’id merupakan metode penyusunan kitab hadits yang ditemukan oleh para ulama’ mutaakhirin. Yaitu kitab yang berisikan hadits-hadits yang berada dalam kitab hadits tertentu, akan tetapi hadits-hadits itu tidak diriwayatkan dalam kitab hadits lainya. 

Untuk memudahkan pemahaman, kami berikan contoh kitab zawa’id yang bernama Fawaid al-Muntaqi li Zawaid al-Baihaqi. Kitab tersebut berisi hadits-hadits yang ada dalam kitab Sunan Baihaqi al-Kubra, akan tetapi hadits-hadits tersebut tidak ditemukan dalam al-kutub al-sittah (6 kitab hadits induk).   

Diantara kitab-kitab zawaid lainnya adalah:

  • Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, karya Imam ‘Ali bin Abu Bakar al-Haitsami.
  • Mishbah al-Zujajah fi Zawaid Ibnu Majah, karya Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad al-Bushairi.
  • Al-Mathalib al-‘Aliyah bi Zawaid al-Masanid al-Tsamaniyyah, karya Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Ashqalani.
  • Ithaf al-Saadah al-Maharah al-Khairah bi Zawaid al-Masanid al-‘Asyrah ,Karya al-Bushairi.

7. Mustadrak

Jenis kitab hadits selanjutnya adalah mustadrak. Kitab mustadrak menghimpun hadits yang tidak terdapat dalam kitab hadits tertentu. Sedangkan kualitas haditsnya adalah shahih berdasarkan persyaratan mukharij (penyusun) kitab hadits tersebut.   

Salah satu contohnya adalah kitab al-Mustadrak ‘ala Shahihain yang disusun oleh Imam al-Hakim. Kitab ini menghimpun hadits-hadits yang tidak ditemukan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sedangkan kualitas haditsnya shahih sesuai kriteria Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

8. Athraf

Kitab athraf adalah kitab yang menghimpun potongan-potongan matan hadits serta menyebutkan sanad nya dari berbagai jalur. Terkadang penyusun menyebutkan sanad nya secara lengkap, terkadang sebagian saja. 

Selain itu, tak jarang penyusun menyebut hadits dengan kalimat yang tidak berasal dari hadits itu sendiri. Akan tetap hadits tersebut populer dengan sebutan tersebut. Misalnya Hadits Jibril, sebutan ini disematkan pada hadits yang berisi dialog antara malaikat Jibril ra. dan Nabi Saw.   

Kitab-kitab hadits dengan metode penyusunan athraf diantaranya:

  • Tuhfah al-Asyraf bi Ma’rifah al-Athraf, karya Imam al-Mizzi.
  • Ittihaf al-Maharah bi Athraf al-‘Asyarah, karya Imam Ibnu Hajar al-Ashqalani.
  • Athraf al-Masanid al-‘Asyarah, karya Imam Syihabuddin al-Bushairi.
  • Athraf Shahih Ibn Hibban, karya Imam Abu al-Fadhl al-‘Iraqi.

9. ‘Ilal

Kitab ‘ilal merupakan kitab yang menghimpun hadits-hadits yang tidak selamat dari ‘illat sekeligus menyebutkan keterangan bentuk ke-‘illat-an dari semua hadits tersebut. Tidak sebagaimana jenis kitab hadits lainnya yang memiliki banyak kitab, kitab ‘ilal ini hanya disusun oleh beberapa ulama’saja. Karena tidak semua ulama’ dianugerahi ilmu ‘ilal al-hadits.

Diantara ulama’ yang mampu menyusun kitab ‘ilal adalah Imam al-Tirmidzi dan Imam al-Daruquthni. Mereka menamai kitabya tersebut dengan al-Ilal

10. Mustakhraj

Kitab mustakhraj terbilang cukup unik, karena dalam kitab ini terhimpun hadits-hadits yang tercantum dalam kitab hadits tertentu, akan tetapi sanad nya berbeda dengan sanad penulis kitab tersebut. misalnya adalah kitab Mustakhraj susunan al-Isma’ili.

Dalam kitab tersebut beliau himpun hadits-hadits dari kitab Shahih al-Bukhari akan tetapi tidak melalui sanad nya Imam al-Bukhari. 

Itulah penjelasan sepuluh jenis kitab hadits yang perlu Anda ketahui sebagai pengkaji hadits. Mengenai penjelasan masing-masing kitabnya, kita bedah pada artikel-arikel berikutnya. Semoga menambah wawasan dan bermanfaat.